Perbedaan e-commerce & marketplace digital

Window shopping flat illustration Premium Vector

Terdapat 1 tembok tebal yang membuat e-commerce dan marketplace digital tampak berbeda. Coba tebak!

Yap, betul. Jumlah vendor. E-commerce ialah website yang mempunyai 1 dan lebih dari 1 penjaja / vendor. Artinya apa? Bagi situs jual beli yang memasarkan barang / jasa HANYA terdiri dari 1 penjaja / vendor dirasakan BUKAN marketplace digital. Tetapi, andai sebuah situs jual / beli menyerahkan fasilitas untuk pihak ketiga guna berjualan, bisa dikategorikan sebagai marketplace digital. Itu sebab marketplace digital ialah website yang HARUS mempunyai penjual / vendor LEBIH DARI SATU.

Dari segi penciptaan software, situs / software yang melulu mengijinkan 1 vendor (e-commerce) guna berjualan, bakal lebih mudah dikomparasikan dengan situs / software yang mengijinkan tidak sedikit user (marketplace digital) guna menjadi vendor / penjual. Atau singkatnya, penciptaan marketplace digital lebih perumahan daripada penciptaan e-commerce biasa.

Meskipun demikian, menurut keterangan dari Richard (Kontributor Forbes guna Ritel), salah satu pesona dari marketplace digital ialah masyarakat mempunyai kecenderungan menginstal software yang menyediakan tidak sedikit pilihan vendor, produk, maupun harga dari pada software e-commerce yang melulu mempunyai 1 vendor / penjual. Dari segi psikologis, pemakai merasa dapat mencocokkan satu barang dengan yang beda secara bersamaan dengan mudah. Nah, experience berikut yang biasanya menjadi pertimbangan dalam menciptakan website marketplace digital.

Akan tetapi, terdapat satu urusan yang menjadi concern vendor / penjual andai menggunakan situs marketplace digital. Barang counterfeit / bajakan / palsu. Ya, dengan mudahnya orang-orang memasarkan barang di marketplace digital, bukan tidak mungkin kemurnian barang menjadi ancaman. Ancaman itu berlaku untuk perusahaan brand yang dipalsukan, maupun konsumen yang terpedaya oleh penjaja barang palsu.

Memang, sudah tidak sedikit marketplace digital yang menyerahkan diferensiasi pada official store. Tetap saja, sebab kecenderungan masyarakat yang memilih barang yang mempunyai harga yang relatif murah, pasti barang-barang palsu di marketplace digital masih mempunyai “pasar” yang lumayan banyak.

Untuk di Indonesia sendiri, pemahaman dan regulasi perihal dagangan counterfeit / barang palsu masih terbilang lemah. Nah, kekurangan inilah yang menjadi perhatian tidak sedikit brand. Sehingga, perusahaan merasa kehadiran e-commerce non-marketplace sebagai lokasi yang “aman” untuk konsumen. “Aman” disini ialah jaminan barang 100% asli sebab e-commerce itu dioperasikan oleh perusahaan brand tersebut sendiri. Bisa dibilang sebagai perpanjangan tangan.

Nah, meskipun sekarang proses menciptakan website e-commerce dapat di berikan kepada perusahaan Software House Professional, namun ada 1 urusan penentu, apakah penjualan produk melewati e-commerce individu akan lebih menguntungkan daripada berjualan di marketplace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *